It Takes Two Nintendo Switch Bikin Saya dan Istri Makin Kompak, Begini Ceritanya

It Takes Two Nintendo Switch menjadi salah satu game yang memberi pengalaman paling berkesan buat saya. Awalnya saya membeli game ini karena penasaran setelah mendengar banyak pujian, apalagi game besutan Hazelight Studios tersebut pernah menyabet gelar Game of the Year di The Game Awards. Setelah memainkannya, saya merasa penghargaan itu memang pantas didapat.

Sebelum bisa mulai bermain, ternyata ada satu pengeluaran tambahan yang tidak saya duga. Nintendo Switch memang mendukung mode multiplayer lokal, tetapi saya tetap harus membeli Joy-Con tambahan untuk bisa memainkan game It Takes Two. Soalnya controller bawaan dari sononya cuma satu.

Masalah berikutnya lebih rumit. Saya tidak punya teman gamer yang bisa diajak menamatkan game ini. Pilihan terakhir tentu jatuh kepada istri saya, meski dia sama sekali bukan gamer. Mau tidak mau, dia harus mengikuti keinginan saya untuk mencoba petualangan yang memang dirancang khusus untuk dua pemain.

It Takes Two Nintendo Switch
 It Takes Two Nintendo Switch

It Takes Two Nintendo Switch Punya Cerita yang Dekat dengan Kehidupan

It Takes Two Nintendo Switch mengisahkan Cody dan May, pasangan suami istri yang rumah tangganya berada di ambang perceraian. Anak mereka, Rose, sedih melihat kedua orang tuanya terus bertengkar. Doanya membuat Cody dan May berubah menjadi boneka kecil layaknya mainan di film Toy Story.

Mereka akhirnya dipaksa bekerja sama melewati berbagai rintangan demi kembali menjadi manusia. Sepanjang perjalanan, keduanya juga belajar memperbaiki hubungan yang sempat retak.

Ceritanya memang sederhana, tetapi mudah dipahami. Banyak adegan yang terasa lucu sekaligus menyentuh. Rasanya sulit tidak ikut terbawa suasana ketika melihat dua karakter utama perlahan kembali saling mengerti.

Main Bersama Orang yang Bukan Gamer Ternyata Punya Tantangan Sendiri

Di atas kertas, It Takes Two terlihat seperti game platformer 3D yang santai. Kenyataannya, beberapa level membutuhkan koordinasi, refleks, dan ketepatan waktu.

Karena istri saya bukan pemain game, banyak bagian yang membuatnya kesulitan. Ada level yang harus diulang berkali-kali karena melompat terlalu cepat, terlambat menekan tombol, atau kehilangan arah kamera.

Akhirnya kami menemukan solusi sederhana. Saya menukar controller dengannya ketika ada bagian yang terasa terlalu sulit. Setelah rintangan terlewati, kami kembali memainkan karakter masing-masing.

Cara itu memang sedikit "curang", tetapi jauh lebih menyenangkan daripada terus mengulang level yang sama sambil frustrasi.

Game Ini Diam-Diam Melatih Komunikasi

Hal yang paling saya rasakan setelah memainkan game ini adalah komunikasi kami yang berubah. Setiap puzzle mengharuskan dua pemain berdiskusi lebih dulu sebelum bertindak. Kami harus memberi aba-aba, menghitung waktu bersama, sampai mengingatkan pasangan ketika ada mekanisme yang terlewat.

Saya juga belajar lebih sabar saat menemani orang yang baru mengenal game. Sebaliknya, istri saya mulai memahami kenapa saya sering mengatakan bahwa kerja sama adalah bagian paling seru dari game multiplayer. Rasanya memang seperti latihan komunikasi yang dikemas dalam bentuk hiburan.

Saat It Takes Two Berlanjut ke Dunia Nyata

Ada satu momen lucu yang sampai sekarang masih kami ingat.

Ketika sedang beristirahat bermain, kami tidak sengaja menyenggol remote televisi hingga terjatuh ke kolong ranjang.

Kalau biasanya saya akan mengambil sendiri, kali itu kami langsung bekerja sama. Satu orang menyorot dengan senter, satunya lagi meraih remote menggunakan gantungan baju.

Kami spontan tertawa karena baru sadar sedang mempraktikkan konsep It Takes Two di dunia nyata. Hasilnya terasa instan. Pekerjaan sederhana yang biasanya merepotkan justru selesai lebih cepat karena dikerjakan berdua.

Momen kecil seperti itu membuat pengalaman bermain game ini terasa lebih membekas.

Pantas Jadi Game of the Year

Setelah menamatkan It Takes Two, saya semakin mengerti alasan game ini memenangkan Game of the Year di The Game Awards 2021.

Bukan karena grafisnya saja atau variasi gameplay yang terus berubah di setiap chapter. Kekuatan terbesar game ini ada pada cara game tersebut membuat dua orang benar-benar bermain bersama, bukan sekadar berada di layar yang sama.

Setiap pemain memiliki kemampuan berbeda sehingga keduanya sama penting. Tidak ada karakter yang terasa menjadi pemeran utama.

Buat saya, game co-op seperti It Takes Two adalah pengalaman yang mempererat kerja sama sekaligus menguji kesabaran dengan cara yang menyenangkan.

Menariknya lagi, Hazelight Studios kembali mengusung konsep serupa lewat Split Fiction. Game terbaru itu terasa lebih dekat dengan kehidupan saya dan istri karena dua karakter utamanya sama-sama berprofesi sebagai penulis.

FAQ

Apakah It Takes Two Nintendo Switch bisa dimainkan sendirian?
Tidak. Game ini memang dirancang khusus untuk dua pemain sehingga kerja sama menjadi inti permainannya.

Apakah orang yang bukan gamer bisa memainkan It Takes Two?
Bisa. Beberapa bagian memang cukup menantang, tetapi pemain yang lebih berpengalaman dapat membantu melewati level yang sulit.

Apakah harus membeli Joy-Con tambahan?
Jika ingin bermain multiplayer lokal di satu Nintendo Switch, Joy-Con tambahan sangat diperlukan. Tanpa dua controller, game tidak bisa masuk ke mode permainan, hanya stuck di menu.

Kenapa It Takes Two memenangkan Game of the Year?
Game ini menawarkan pengalaman co-op yang unik, penuh variasi gameplay, cerita yang emosional, dan berhasil membuat dua pemain benar-benar bekerja sama sepanjang permainan.

Apakah Split Fiction mirip dengan It Takes Two?
Ya. Split Fiction juga dikembangkan oleh Hazelight Studios dan tetap mengusung gameplay kerja sama dua pemain, meski menghadirkan cerita serta karakter yang berbeda.

Kunjungi toko Gamebook untuk mendapatkan game original, aksesori, dan merchandise gaming serta anime favoritmu.


Komentar