Survivorship Bias Adalah Alasan Berhati-Hati, Bukan Berhenti Mengejar Mimpi

Survivorship bias adalah istilah yang belakangan ramai dibahas di komunitas esports setelah muncul video dari kreator edukasi Edutektif yang mengulas peluang menjadi pro player. Video tersebut mengingatkan bahwa banyak orang hanya melihat kisah sukses segelintir pemain, sementara jutaan orang lain yang gagal jarang mendapat sorotan.

Pendapat itu memang layak dipertimbangkan. Namun, menurut saya, memahami survivorship bias bukan berarti kita harus mengubur mimpi. Justru, konsep ini bisa menjadi pengingat agar mengejar impian dengan lebih realistis, sambil menyiapkan jalan alternatif jika rencana pertama tidak berjalan sesuai harapan.

Survivorship Bias Adalah
Survivorship Bias Adalah

Survivorship Bias Adalah Kesalahan Melihat Kisah Sukses Sebagai Gambaran Umum

Survivorship bias adalah kecenderungan seseorang yang hanya melihat orang-orang yang berhasil, lalu menganggap peluang sukses terbuka lebar untuk semua orang. Padahal, masih ada banyak orang yang gagal dan kisah mereka jarang muncul di media.

Contoh paling sederhana adalah ketika seseorang berkata, "Lihat pro player itu bisa membeli rumah dari bermain game." Pernyataan tersebut memang benar. Masalahnya, orang sering lupa menghitung berapa juta pemain lain yang memiliki mimpi sama tetapi tidak pernah mencapai liga profesional.

Dalam psikologi, pola pikir seperti ini termasuk bentuk kesalahan berpikir. Karena itu, mengambil keputusan sebaiknya tetap melihat data secara utuh, bukan hanya berdasarkan kisah inspiratif.

Video Edutektif Mengingatkan Soal Risiko Dunia Esports

Video klarifikasi yang diunggah Edutektif membahas peluang menjadi atlet esports profesional menggunakan sejumlah contoh dan data. Salah satu poin yang paling banyak dibahas adalah kecilnya jumlah kursi pemain di liga profesional dibandingkan dengan jumlah pemain aktif Mobile Legends di Indonesia.

Pesan utamanya sebenarnya cukup jelas. Jangan hanya melihat mereka yang berhasil, tetapi pahami juga risiko yang mungkin terjadi apabila seluruh waktu, pendidikan, dan masa muda dipertaruhkan hanya untuk mengejar satu tujuan.

Pendapat tersebut layak menjadi bahan renungan, terutama bagi pemain muda yang ingin menjadi pro player.

Namun, Apakah Karena Survivorship Bias Kita Harus Berhenti Bermimpi?

Menurut saya, jawabannya tidak.

Saya justru melihat survivorship bias adalah alasan untuk menyusun strategi yang lebih matang, bukan alasan untuk menyerah sebelum mencoba.

Kalau semua orang takut gagal, mungkin kita tidak akan pernah melihat munculnya pemain-pemain hebat Indonesia di panggung dunia. Mereka juga pernah memulai dari posisi yang sama, yaitu pemain biasa yang berlatih setiap hari.

Masalahnya bukan pada mimpinya. Masalah muncul ketika seseorang hanya menyiapkan satu jalan dan menolak melihat kemungkinan lain.

Gagal Menjadi Pro Player Bukan Berarti Gagal di Industri Esports

Inilah bagian yang sering terlupakan.

Esports bukan hanya soal menjadi pemain profesional. Industri ini berkembang sangat luas dan membutuhkan banyak profesi lain.

Seseorang yang gagal menjadi pro player masih memiliki peluang menjadi pelatih, analis pertandingan, content creator, komentator, manajer tim, editor video, desainer grafis, admin media sosial, fotografer, videografer, event organizer, hingga jurnalis esports.

Justru orang yang pernah serius bermain biasanya memahami ekosistem game lebih baik. Pengalaman tersebut menjadi modal yang berharga ketika berpindah ke profesi lain di industri yang sama.

Dengan kata lain, gagal di jalur pertama bukan berarti perjalanan harus selesai.

Mental Baja dan Kemauan Belajar Jauh Lebih Penting

Dunia esports berubah sangat cepat. Game yang populer hari ini belum tentu masih ramai beberapa tahun lagi.

Karena itu, kemampuan yang paling dibutuhkan bukan sekadar mekanik bermain. Mental yang kuat, kemampuan belajar hal baru, dan kesiapan beradaptasi jauh lebih menentukan perjalanan karier seseorang.

Kalau suatu hari impian menjadi pemain profesional tidak tercapai, masih ada banyak kesempatan lain selama seseorang mau terus belajar.

Bahkan, tidak sedikit mantan pemain profesional yang kini sukses menjadi streamer, pelatih, talent, atau bekerja di perusahaan game.

Jadikan Kisah Sukses Sebagai Motivasi, Bukan Patokan

Menurut saya, kisah sukses para pro player tetap layak dijadikan inspirasi. Mereka membuktikan bahwa bermain game memang bisa menjadi profesi.

Namun, inspirasi sebaiknya berjalan berdampingan dengan rencana cadangan.

Kejar mimpi dengan usaha maksimal. Latih kemampuan setiap hari. Tetap sekolah atau kuliah jika memungkinkan. Pelajari keterampilan lain yang bisa mendukung masa depan.

Kalau berhasil menjadi pro player, itu luar biasa.

Kalau ternyata gagal, perjalanan belum selesai karena masih banyak pintu lain yang bisa dibuka.

Pada akhirnya, survivorship bias adalah pengingat agar kita melihat kenyataan secara lebih utuh. Tetapi, konsep tersebut tidak seharusnya membuat seseorang takut mencoba. Bermimpi tetap penting, selama disertai kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan dan keberanian untuk beradaptasi ketika hidup membawa kita ke jalur yang berbeda.

FAQ

Survivorship bias adalah apa?

Survivorship bias adalah kesalahan berpikir yang hanya melihat orang-orang yang berhasil, sementara mereka yang gagal tidak ikut diperhitungkan.

Apakah survivorship bias berarti kita tidak boleh mengejar mimpi?

Tidak. Survivorship bias justru mengajarkan agar kita mengejar mimpi dengan perhitungan yang matang dan memiliki rencana cadangan.

Apakah menjadi pro player masih layak dicoba?

Layak dicoba jika dilakukan dengan disiplin, memahami risikonya, dan tidak mengabaikan pendidikan maupun pengembangan keterampilan lain.

Jika gagal menjadi pro player, apa masih ada peluang di esports?

Masih banyak. Industri esports membutuhkan pelatih, analis, caster, content creator, jurnalis, editor video, manajer tim, fotografer, hingga berbagai profesi di balik layar.

Apa pelajaran utama dari survivorship bias?

Jadikan kisah sukses sebagai motivasi, tetapi tetap lihat data dan kenyataan secara menyeluruh agar keputusan yang diambil lebih bijak.

Kunjungi toko Gamebook untuk mendapatkan game original, aksesori, dan merchandise gaming serta anime favoritmu.

Komentar